Minggu, 12 September 2010

Nepotsm, Why Not?

Kalau anda ke yang Yogya, coba perhatikan warung pedagang kaki lima yang berlabel warung Burjo, bubur kacang hijau dan mie rebus. Syukur jika ada waktu sedikit untuk jajan disitu, bertanyalah kepada penjualnya soal nepotisme, barangkali mereka tidak mengetahui istilah itu karena mereka kebanyakan droup-outan SMP (low level education) tetapi mereka dapat menjelaskan prakteknya secara gamblang kepada anda.

Dan pada umumnya anda menjumpai sesosok pedagang yang kenthal dengan logat Jawa Baratnya karena mereka kebanyakan berasal dari Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Namun hebatnya mereka telah mengalahkan berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dll. Awalnya mereka sangat terdesak oleh kebutuhan ekonomi pada level dasar (untuk makan) mengingat kondisi persawahan mereka kekurangan air akibat dampak buruk pembangunan. Hidup mereka mana bisa sejahtera kalau hanya mengandalkan sawah tadah hujan?

Akhirnya banyak pemuda putus sekolah,  SMP tidak lulus yang awalnya "ngenger" alias magang pada saudaranya terlebih dahulu yang telah merantau berbisnis burjo dan mie rebus. Tetapi akibat penderitaan ekonomi yang kepepet tadi menjadikan niat mereka tahan banting dan tekadnya membaja, kuat. Dalam waktu 4 - 5 tahun merantau para pemuda yang tadinya makan saja susah dan putus sekolah, dia sudah dipercaya mengelola warung burjo sendiri. Dengan istilah yang berbeda, mereka tidak malu-malu mengatakan bahwa kunci sukses perantauan Kuningan ini terletak pada nepotisme.Prakteknya sungguh sangat sederhana dan alami, apabila kakaknya sukses, nanti saat mudik akan menarik adiknya yang masih ada di kampung, seterusnya bila adiknya berhasil, ia akan menarik saudaranya yang lain. Pokoknya hukum tarik menarik antar kerabat yang sangat menguntungkan ini sangat berlaku didalam bisnis ini. Jadi ini adalah bisnis yang berbau nepotisme tiddak hanya dari satu orang tua saja tetapi sudah turun temurun dari simbahnya.

Jangan dianggap remeh kalau satu warung burjo dan mie rebus sehari bisa beromzet rata-rata Rp 300 ribu, tidak heran bila bisnis ini bisa mensejahterakan owner dan karyawannya dengan penghasilan Rp 1,5 juta per bulan, jauh di atas UMP daerah manapun di Indonesia. Jangan kaget kalau kelak banyak sarjana burjo dari Kuningan, artinya kesarjanaannya dibiayai oleh orang tuanya dengan jualan burjo & mie rebus, itulah.....