Senin, 28 Oktober 2013

Mi Lethek, Kuliner Sehat dan Alami

Kesehatan sangat dipengaruhi oleh pola makan seseorang di masa lampau. Jika mereka sering makan makanan yang tak bergizi, junk food dan bahkan yang banyak mengandung zat pengawet, pemutih dan moto, maka wajar jika itu dikonsumsi dalam jangka panjang menimbulkan berbagai penyakit. Dan biasanya, orang yang bersangkutan baru menyadari setelah terkena penyakit, terlambat bukan? 

Nah mi lethek hadir sebagai kuliner alternatif yang alami dan sehat. Kami sengaja mempelajari cara masak mi lethek yang tanpa moto tetapi tetap lezat. Kami juga pilih mi lethek yang pembuatannya masih tradisional dan tanpa pemutih serta pengawet karena hanya dijemur mengandalkan sinar mentari.



Inilah para pemburu kuliner yang alami dan sehat, salah satunya adalah mi lethek. Malam minggu selalu full, promosi dari mulut ke mulut jauh lebih jos...  

Dalam Omah Limasan penuh pelanggan

Di dalam ruangan atas juga full
Di teras pun mereka bersedia antri (saat Limasan blm jadi)

Dan jangan kuatir meski banyak pelanggan takkan lama antri karena kami sudah menerapkan sistem masak secara mass production tanpa mengurangi taste, bukan dimasak per satu porsi.

Rabu, 23 Oktober 2013

Bos Nufarindo Ngincipi Mi Lethek

Malam ini adalah hari ke 3 kami buka warung mi lethek.Tiba-tiba saja seorang teman yang bernama Koh Budi datang mengajak Bing Liem bos Nufarindo datang berkunjung ke kedai mi lethek. Dia diajak datang kesini karena pertemanan kami yang erat dan bahkan pernah berkonco saat SMA.

Bing Liem sedang tanya soal wedang secang

Koh Budi dan Bing Liem sedang menikmati mi lethek

Senin, 21 Oktober 2013

Plencing Kuah atau Garing

Plencing Goreng

Pak Mendes, saya baru datang dari Bandung, Apa sih plencing itu? Dari kangkung ya? Bukan mas, jawab kita kita ramah. Plencing Mendes adalah resep racikan almarhum eyang kami mbah Mendes, yaitu mi lethek goreng atau godog ditambah tahu putih yang dimasak manis (dari kecap) dan pedhas (dari irisan cabe). 

Suatu sensasi rasa yang berkebalikan, manis vs pedhas dalam satu masakan. Dan itulah hebatnya plencing. Lidah anda akan terpuaskan dengan rasa itu. Pertama-tama ujung lidah anda akan merasakan manisnya plencing dan selanjutnya seluruh permukaan lidah akan dijalari rasa pedhas yang memanas, sementara diantara rasa pedhas itu terselip rasa gurih asam dan asin, benar-benar harmoni rasa yang jitu dan nendhang. 

Bagi orang yang tidak doyan dengan rasa pedhas, tapi pengin mencoba plencing, bisa saja cabenya minta dihilangkan, sehingga rasanya hanya manis dan gurih. Bagi yang menyukai pedhas bisa juga level pedhasnya dinaikkan menjadi pedhas sedang atau bahkan pedhas banget. Semua bisa diatur sesuai dengan selera anda.

Minggu, 20 Oktober 2013

Mi Lethek Goreng atau Godhok sama enaknya.

Kalau ditanya enak mana mi lethek goreng atau godhok? Pada akhirnya kembali ke selera masing-masing, yang jelas keduanya sama enaknya. Akan lebih baik lagi kalau beli hari ini goreng, besok nyoba yang godhok, itu ide yang sangat bagus.

Mi Lethek Goreng  Plus Wedang Secang
Mi Lethek Godhok Plus Wedang Secang

Jumat, 18 Oktober 2013

Para Penikmat Mi Lethek Bantul

Mereka adalah para penikmat mi lethek yang datang di warung mendes. Tanpa mereka warung ini tidak ramai, geliat ekonomi menjadi labil

Ngrasain nikmatnya mi lethek goreng

Menunggu mie lethek matang

Merasakan nikmatnya mi godhok

Kamis, 17 Oktober 2013

Pelanggan Mie Lethek Mulai Berdatangan


Sehari setelah grand opening, pelanggan langsung aja berdatangan setelah mahgrib. Ternyata penggemar mie lethek tidak sedikit. Padahal kami belum melakukan promosi secara gencar melalui segala media yang ada. Semoga semakin laris saja.

Selasa, 15 Oktober 2013

Mie Lethek Memang Jos

 Sang sapi
Mie Lethek tetap maknyus sampai kapanpun, alami dan higenis. Proses pembuatan mie lethek sangat unik dan tradisional. Pabrik mie lethek terletak di Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pabrik mie lethek berdiri sejak 1940an, pabrik sempat berhenti beroperasi tahun 1983 hingga pertengahan 2003 karena tidak ada yang mengelola karena persoalan  ekonomi. Usaha mie lethek merupakan usaha turun-temurun keluarga Umar Bisyir Nahdi. Saat ini  pabrik dihidupkan kembali  oleh cucu dari Umar Bisyir Nahdi, yaitu Yasir Ferry Ismatrada. 

Semua peralatan proses pembuatan mie lethek dipertahankan menggunakan alat tradisional, seperti alat penggiling tepung berupa batu silinder seberat 1 ton yang ditarik menggunakan tenaga sapi, dan oven berbahan bakar kayu. Hanya alat pencetak atau pres mie yang saat ini telah diganti menggunakan mesin dengan tiga orang pekerja sebagai operator. Awalnya alat pencetak atau pres mi menggunakan alat yang disebut "tarikan" yang harus dioperasikan secara manual oleh delapan pekerja. 

Mie lethek terbuat dari bahan dasar tepung tapioka atau tepung singkong yang dicampur dengan gaplek. Kedua bahan itu diaduk dengan menggunakan alat berbentuk silinder. Silinder tersebut digerakkan oleh tenaga sapi. Setelah bahan baku diaduk, dimasukkan ke tungku kukusan, lalu diaduk lagi untuk mengatur kadar airnya. Kemudian adonan tersebut dipres dan dikukus lagi. Proses terakhir berupa pencetakan dan penjemuran mie hingga kering. Penjemuranpun mengandalkan panas matahari selama hampir 18 jam. 


Produk mie ini disebut mie lethek karena warna mie ini tidak secerah mie pada umumnya, yakni putih atau kuning. Warna mie ini buthek atau keruh karena tidak menggunakan bahan pemutih, pewarna, ataupun pengawet. Lethtek dalam bahasa Jawa artinya kotor, Mie lethek diberi merek oleh keluarga Yasir dengan merek Mie Garuda, Mie Garuda dijual dengan harga Rp 8.000 per kilogram dan dipasarkan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Proses pembuatan mi lethek secara tradisional, dipasarkan pun di pasar tradisional itulah yang membuat Mie lethek sangat Istimewa keberadannya.

Mie Lethek

Mie Lethek adalah mie asli Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul, Yogyakarta. Mie putih berwarna kusam (lethek) yang dibuat dari tepung tapioka (tepung ketela) dicampur gaplek dan kemudian dijemur dengan sinar matahari menjadi mie kering tanpa pemutih maupun pengawet hingga warnanya lethek sesuai warna aslinya tepung ketela kering. Pabrik itu sendiri berdiri sekitar 1940.

Tepung Tapioka (ketela) dan Gaplek di giling
Adonan di press jadi mi lethek

Hasil penggilingan masuk pengukusan

Penjemuran Mi Lethek

Proses pembuatannya seperti video berikut :



Awal tahun 1950 eyang kami yang bernama Mangun Pawiro alias Sajem mulai menjual bakmi lethek ini dengan menu mie goreng, mie godhok dan plencing (mie dengan kuah manis, pedas dari potongan cabe dan ditambah potongan tahu putih) di dusun kami Gunturgeni, Poncosari, Srandakan, Bantul.

Setelah eyang kami meninggal dunia, maka usaha warung bakmi lethek dilanjutkan Bulik kami yang bernama Tien Supartinah dan sejak tahun 1980 warung pindah didekat terminal Sorobayan, Gadingsari, Sanden Bantul. Bu Tien meninggal tahun 2017.

Pada saat itu eyang kami sering disebut mBah Mendes yang artinya kenes (sedikit genit) tapi galak. Agar sesuai dengan perkembangan kuliner masa kini maka kata mendes sekarang kita plesetkan menjadi "Memang nDeso". 

Saat ini generasi ketiga membuka cabangnya di Ringroad Utara, Maguwohardjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Posisi masuk lewat depan pintu gerbang Lotte Mart, tepatnya di belakang Pom Bensin/Lotte Mart.

Inilah video warung kami yang sudah di shoot Trans 7 dalam acara Ditektif Rasa.