Selasa, 28 Januari 2014

Diversifikasi Produk

Main produk kita adalah Mi Goreng, Mi Godog, Plencing Goreng dan Plencing Godog. Namun karena permintaan konsumen akan camilan untuk menunggu pesanan dimasakkan oleh juru masak kami semakin meningkat, maka kami harus mengasah otak untuk menyediakan camilan tersebut. Masukan dari konsumen kebanyakan meminta kerupuk, namun karena kami sudah mencanangkan makanan sehat alami, maka pilihan kami jatuh pada camilan tradisional yaitu : peyek, emping dan slondok. Kerupuk belum masuk dalam nominasi kami karena sekarang pembuatannya menggunakan moto dan pemutih. Kita outsourcing kan pembuatan peyek, emping telo dan slondok sambil mengedukasi pengrajin bahwa produk ndeso nan alami ini harus dimasak tanpa pengawet, pemutih dan moto.


Teknik diversifikasi produk ini sejalan dengan info yang kami terima bahwa sebuah dealer moge Harley Davidson omset sales HD sebagai produk utama hanya 40% sementara yang 60% berasal dari sales assesories dan spare part. Besar harapaan kami sales camilan tradisional ini dapat mengimbangi produk utama kami jika kita kelola dengan baik dan benar.

Selasa, 21 Januari 2014

Ita Mustafa Berkunjung ke Mi Lethek

Ita Mustafa (lahir: Jakarta pada tahun 1960) adalah aktris Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an yang sering tampil sebagai aktris pendukung. Ita sempat menjadi dan peran utama dalam film Tinggal Sesaat lagi bersama aktor senior Roy Marten.
Saat ini wanita yang berdarah Cirebon-Palembang ini giat dalam mengembangkan usaha restorannya di kawasan Citos, Jakarta Selatan Ia juga merupakan ibu dari dua orang anak yang disekolahkannya di Al-Azhar. Berdasarkan berbagai sumber, ia mengaku sangat bangga untuk dapat menyekolahkan kedua anaknya itu di lembaga pendidikan islam Al-azhar, tepatnya di Al-Azhar 1 yang terletak di Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Suatu kebetulan atau suatu berkah saat Ita Mustafa berkunjung ke warung mi lethek mbah Mendes. Crew warung langsung pasang badan ramai2 untuk bisa photo bersamanya, narsis bukan? Hahaha..
Ita Mustafa belum siap kita photo
Ita Mustafa dan Crew Mi Lethek mBah Mendes
Komentar dan Tanda Tangan Ita Mustafa

Jumat, 17 Januari 2014

Hari-hari Biasa di Mi Lethek

Foto: Hari2 biasa mi lethek tetap penuh pembeli ....
Suasana setiap malam di mi lethek

Ini fenomena alami dan sekaligus merupakan kenyataan yang penuh berkah bahwa hari-hari biasa hujan maupun cerah mi lethek tetap ramai pembeli. Ternyata semakin banyak orang mencari makanan tradisional yang sehat tanpa pengawet, pewarna dan dimasak tanpa moto (msg), dan secara kebetulan mi lethek bisa hadir seperti itu. 

Namanya juga usaha, kadang ramai kadang sepi, itu resiko yang harus kita terima, begitu pikiran logis kami. Namun jika ramai terus itu mah alhamdulilah bahwa kita masih dipercaya Tuhan untuk dikasih berkah.

Sampai tadi malam ada aja new comer yang sifatnya trial and error, datang untuk mencoba makan mi lethek. Komentarnya, enak dan sehat, buntutnya begitu selesai makan pesan lagi untuk dibungkus, nah resikonya ngantri dimasakkan lagi. Oleh karena itu keputusan untuk order pesan harus segera dilakukan, telad sedikit antri hahahaha...

Kamis, 16 Januari 2014

Berbagai Motivasi datang ke Mi Lethek

Ternyata baru kita tahu bahwa orang yang datang ke warung mi lethek itu motivasinya bermacam-macam. Ada yang memang datang hanya untuk makan menikmati mi lethek, ada yang membandingkan satu warung mi dengan lainnya alias wisata kuliner, ada yang datang sambil mengajak kerjasama karena melihat larisnya pembeli (sebagai sponsor dengan membuatkan spanduk, nomor meja dll), ada yang datang menawarkan kredit perbankan, ada yang membandingkan pengelolaannya karena dia sendiri punya restoran dan sebagainya.


Semua motivasi tersebut kita tanggapi dengan sebaik-baiknya. Dan pembicaraan awal yang perlu ditindak-lanjuti akan kita follow up demi pengembangan dan keuntungan kedua belah pihak.

Dan sebagai hidangan makan malam yang sedap di kala hujan gerimis yang dingin, marilah kita nikmati hangat nan pedasnya plencing godog dahulu...
Plencing Godog

Selasa, 14 Januari 2014

Memburu Mi Lethek


Seorang pembeli mi lethek Mendes saat mbayar di kasir menyempatkan cerita singkat kepada kami, saya dari Cangkringan ber 12 orang nih pak, abis piknik ke Pantai Indrayanti terus sorenya ke Sekaten Alun-Alun Utara dan terakhir makan malam di warung mi lethek mBah Mendes. Eduan tenan, di pantai Indrayanti yang jauh ke selatan kan banyak warung, demikian pula di Sekaten kan juga banyak warung, eh la kog pilih mi lethek yang harus menyeberang kota kalau dari Alun-alun. Alasannya apa? Penasaran sama letheknya mBah Mendes. Teko pisan ketagihan!

Lain lagi cerita seorang bapak2 dari Prambanan beserta rombongan 4 orang naik sedan Mercy th 2010 an . Kemarin malem saya mampir sekitar jam 10 malem sudah kehabisan, sekarang saya mruput supaya kebagian dan ngiras santai di sini. Oooo....silahkan pakdhe...

Ada lagi serombongan dari Gamping Jl Wates datang pakai Inova dengan penumpang: bapak, anak dan menantu. Sempat kasih kuliah kepada kami bahwa mi lethek ini kan dibuat dari tepung ketela, ini tidak membikin gemuk. Kalau mi yang terbuat dari gandum bikin perut buncit, dan mi lethek ini rasanya pas pada lidah kami. Oooo begitu to...

Ada juga seorang bpk dan ibu beserta anaknya, sambil senyum ramah cerita bahwa dia yang tinggal di sebelah utara Stadion Maguwohardjo dapat info dari temannya kalau di jl imogiri ada mi lethek, dia cari sampai jam 9 malam tidak ketemu hingga perutnya lapar, eh nggak tahunya suatu siang saat mau pulang lewat jl ringroad utara melihat spanduk mi lethek mBah Mendes, malemnya dia bawa anak dan istrinya datang ngincipi, rasanya maknyos bro...
 
Dan kalau direkap masih banyak lagi ceritanya, cuma mereka rata2 sepakat dan setuju saat kita beri tugas untuk menyiarkan adanya mi lethek mBah Mendes di sini. Bilang sama dulurmu, bapakmu, mertuamu, koncomu, bojomu, anakmu dan tetanggamu ya.... Terima kasih Mendeser....

Minggu, 12 Januari 2014

Apa itu Plencing

Plencing Goreng
Setiap pembeli baru di warung mi lethek selalu bertanya kala membaca daftar menu tertulis Plencing. Apa sih plencing itu? Mereka langsung menebak, dari kangkung ya? Bukan, Plencing merupakan resep kreasi almarhum eyang kami mbah Mendes, yaitu mi lethek goreng atau godog ditambah tahu putih yang dimasak  manis (dari kecap) dan pedhas (dari irisan cabe). 

Suatu sensasi rasa yang berkebalikan, manis vs pedhas dalam satu masakan. Dan itulah hebatnya plencing. Lidah anda akan terpuaskan dengan rasa itu. Pertama-tama ujung lidah anda akan merasakan manisnya plencing dan selanjutnya seluruh permukaan lidah akan dijalari rasa pedhas yang memanas, sementara diantara rasa pedhas itu terselip rasa gurih asam dan asin, benar-benar harmoni rasa yang jitu dan nendhang.

Bagi orang yang tidak doyan dengan rasa pedhas, tapi pengin mencoba plencing, bisa saja cabenya minta dihilangkan, sehingga rasanya hanya manis dan gurih. Bagi yang menyukai pedhas bisa juga level pedhasnya dibuat pedhas sedang atau bahkan pedhas banget. Semua bisa diatur sesuai dengan selera anda.


Kamis, 09 Januari 2014

Resep Warisan Simbah Jadi Berkah

Siapa sangka mi lethek mbah Mendes sebagai resep warisan leluhur bisa menjadi berkah. Kalau kita tidak nekad dengan perhitungan dan berani membuka warung tentu berkah itu tidak datang sendiri. Berkah bisa datang dengan upaya, dengan jerih payah, dengan keringat, ini berkah alami bro.... Dan semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi calon-calon wiraswasta yang lain.

Omah limasan jati yang kita bangun belum sepenuhnya jadi saja sudah keburu dipakai untuk makan mi lethek. Para penikmat mi lethek seakan mau mengerti atas pembangunan infra struktur warung yang tengah berlangsung dan ini tentu untuk kenyamanan para pelanggan di kelak kemudian hari.


Gambar di atas kita ambil semalem, dimana instalasi listrik belum sempurna, tegel lantai belum seluruhnya selesai terpasang, meja dan kursi makan tidak seragam alias seadanya namun pelanggan sudah nikmat menyantap mi lethek, prospek yang luar biasa....

Selasa, 07 Januari 2014

Liburan Sudah Usai, Mi Lethek Tetap Laris

Bukannya kita berkata sombong, tapi memang kenyataan bahwa liburan telah berlalu namun mi lethek tetap ramai pembeli. Benar-benar diluar prediksi kami, awalnya kami buka mi lethek tidak berani langsung sebesar ini dengan membangun omah limasan, ruang makan yang terasa menjadi sempit jika pembeli datang berbarengan itulah yang mendorong kita memperluas ruang makan supaya menjadi nyaman.



 Rupanya orang Yogya atau yang datang ke Yogya sudah sadar untuk back to nature, kembali ke makanan tradisional alami nan sihat. Sehingga perluasan ruang makan dengan omah limasan selalu penuh dengan mendeser (pembeli mi lethek mendes).

Mi Lethek Goreng



Senin, 06 Januari 2014

Mi Lethek mBah Mendes : Rego nDeso Roso Kutho

Mobil yang parkir di warung kami beragam mulai dari suzuki carry, baleno, avanza, inova, fortuner bahkan alphard. Mobil semurah apapun kalau hanya merogoh kocek tak lebih dari Rp 50.000 untuk makan mi lethek dan minum wedang uwuh berdua, rasanya tidak mahal bahkan berasa murah, ini rego ndeso bro....ini harga desa masbro!

Meski harga ndeso, soal taste, soal rasa tak kalah saing dengan makanan kota bro. Mulai dari proses pembuatan mi lethek dilakukan secara alami, tanpa pemutih dan pengawet sampai pada teknik masak mi lethek yang tidak pernah menggunakan moto (msg) sehingga dijamin sehat, alami dan higenis dengan cita rasa tinggi,  tetap maknyos. Resep ini merupakan warisan nenek moyang kami mbah Mendes sehingga racikan bumbunya telah dikuasai benar-benar oleh cheff mi lethek generasi ke 3. Racikan rempah-rempah sebagai penyedap rasa sudah kita pilihkan yang paling jos.


Minggu, 05 Januari 2014

Cikal Bakal Mi Lethek : Sorobayan, Gadingsari, Sanden, Bantul

Anak dari "mBah Mendes" yang mewarisi jualan mi lethek adalah Bu Tien Supartinah. Bu Tien ini membuka warung mi lethek sekitar tahun 1980. Awal buka di dusun Gunturgeni, Poncosari, Srandakan, Bantul. Kemudian warung dipindah ke dusun Sorobayan, Gadingsari, Sanden, Bantul sampai sekarang. Bahkan tempat jualan yang sekarang sudah kita beli menjadi aset kami sehingga tinggal menunggu waktu tak lama lagi warung cikal bakal mi lethek "mBah Mendes" akan kita upgrade agar lebih representatif.

Tien Supartinah, generasi ke 2 mBah Mendes
Spanduk Mi Lethek ala kadarnya
Untuk warung mi lethek Sorobayan buka dari pagi jam 10 - sampai jam 24.00 setiap hari.

Sejak Awal Mei 2014 spanduk sudah kita ganti dengan identifikasi jelas, yaitu "Mi Lethek Bantul Mbah Mendes"

Teko Pisan Dadi Tuman

Bukannya kita sombong tapi lebih percaya diri saja bahwa pameo kita "teko pisan dadi tuman" sudah berkali-kali terbukti untuk pelanggan kami. Inilah salah satunya, Mr.Bin Bin alias Hendro Wijayanto, bos Quick Tractor jl Magelang untuk yang kedua kalinya membawa rombongan keluarga besarnya,  istrinya, anaknya, kakaknya beserta istrinya, mertuanya dan familinya yang lain dan juga tak ketinggalan pembantunya sampai kebak sak omah limasan jati dihuni mereka semua. Ramai sekali mereka bersenda-gurau di kedai mi lethek menunggu pesanan dibuatkan. Selamat menikmati mi lethek bos ...

Keluarga Besar Quick Tractor
Sudah begitu mereka juga tidak segan2 untuk bawa pulang bungkus mi lethek goreng. Nih sudah kita siapkan tas plastiknya.


Jumat, 03 Januari 2014

Teman Lama Berkunjung Ngemi Lethek

Semalem 2 orang teman lama yang baru saja dikukuhkan menjadi profesor di FTP UGM (Prof. Dr. Ir.Eni Harmayani dan Prof.Dr. Ir. Sri Rahardja) dan seorang teman kuliah yang kini menjadi konsultan dan trainer perbankan di Jakarta datang berkunjung. Secara kebetulan mereka bertemu di mi lethek, suatu kebetulan yang ngrejekeni, yang membawa berkah. 

Foto: Teman lama dr Jakarta datang ngincipi mi lethek...

Teman lama ini datang bukan sendirian tetapi full penumpang dengan 2 mobil Inova, mantab! Rupanya beberapa hari sebelumnya dia sudah suruhan saudaranya yang tinggal di Condong Catur untuk tes taste mi lethek. Karena hasil tes cita rasa ternyata sesuai selera, maka dia datanglah dengan rombongan keluarga besarnya. Selamat makan mi lethek masbro. 

Keluarga besar konco lawas

Kamis, 02 Januari 2014

Menerima Pesanan Mi Goreng Partai Besar ataupun Kecil

Awalnya setengah dipaksa sama Prof Dr. Ir. Eni Hermayani untuk menyajikan mi lethek saat pengukuhan beliau sebagai guru besar di FTP UGM. Judul pidatonya memang pas, yaitu soal kedaulatan pangan lokal lewat makanan yang berasal dari umbi-umbian.  Team mi lethek harus kedabigan dan gedandapan menyiapkan mi lethek goreng kemasan cup dari plastik bening dan ditempel kartu nama. Kali ini kita hanya berani menyajikan 100 cup. 


Saat tasyukuran sang profesor di auditorium ftp ugm, ternyata tidak ada 30 menit sebanyak 100 cup mi lethek goreng habis laris manis diambil para undangan. Efek berikutnya, dua hari setelah tasyukuran tersebut, ada seorang ibu dari Perumahan Dayu Permai Jl Kaliurang datang ke warung untuk tes rasa dan akhirnya dengan cepat memutuskan pesan 300 cup terdiri dari 150 cup mi goreng dan 150 cup plencing goreng untuk hari Sabtu tanggal 4 Januari 2014 jam 11 siang.

Foto: Akibat promosi mi lethek saat pengukuhan guru besar di ftp ugm kmarin, dpt order 300 bungkus mi goreng dan plencing....alhamdulilah