Selasa, 14 Januari 2014

Memburu Mi Lethek


Seorang pembeli mi lethek Mendes saat mbayar di kasir menyempatkan cerita singkat kepada kami, saya dari Cangkringan ber 12 orang nih pak, abis piknik ke Pantai Indrayanti terus sorenya ke Sekaten Alun-Alun Utara dan terakhir makan malam di warung mi lethek mBah Mendes. Eduan tenan, di pantai Indrayanti yang jauh ke selatan kan banyak warung, demikian pula di Sekaten kan juga banyak warung, eh la kog pilih mi lethek yang harus menyeberang kota kalau dari Alun-alun. Alasannya apa? Penasaran sama letheknya mBah Mendes. Teko pisan ketagihan!

Lain lagi cerita seorang bapak2 dari Prambanan beserta rombongan 4 orang naik sedan Mercy th 2010 an . Kemarin malem saya mampir sekitar jam 10 malem sudah kehabisan, sekarang saya mruput supaya kebagian dan ngiras santai di sini. Oooo....silahkan pakdhe...

Ada lagi serombongan dari Gamping Jl Wates datang pakai Inova dengan penumpang: bapak, anak dan menantu. Sempat kasih kuliah kepada kami bahwa mi lethek ini kan dibuat dari tepung ketela, ini tidak membikin gemuk. Kalau mi yang terbuat dari gandum bikin perut buncit, dan mi lethek ini rasanya pas pada lidah kami. Oooo begitu to...

Ada juga seorang bpk dan ibu beserta anaknya, sambil senyum ramah cerita bahwa dia yang tinggal di sebelah utara Stadion Maguwohardjo dapat info dari temannya kalau di jl imogiri ada mi lethek, dia cari sampai jam 9 malam tidak ketemu hingga perutnya lapar, eh nggak tahunya suatu siang saat mau pulang lewat jl ringroad utara melihat spanduk mi lethek mBah Mendes, malemnya dia bawa anak dan istrinya datang ngincipi, rasanya maknyos bro...
 
Dan kalau direkap masih banyak lagi ceritanya, cuma mereka rata2 sepakat dan setuju saat kita beri tugas untuk menyiarkan adanya mi lethek mBah Mendes di sini. Bilang sama dulurmu, bapakmu, mertuamu, koncomu, bojomu, anakmu dan tetanggamu ya.... Terima kasih Mendeser....