Selasa, 31 Maret 2015

Pembangunan Cabang Mendes di Jalan Parangtritis

Ditarget 3 minggu untuk berburu kayu jati lawas guna membangun omah limasan. Alhamdulilah tercapai dan sekaligus disiapken tukang kayu untuk perakitan limasan knock down.


Bahan kayu jati lawas utk limasan
Bahan kayu jati, yaitu kerangka (balungan) dan cagak yang sudah disetel  mulai dipasang dilokasi warung.
 
Limasan warung mendes mulai di setel
Spanduk lowongan juru masak sudah kita copot dan diganti sementara dengan spanduk makan sehat mendes sampai menunggu limasan sempurna untuk ditempati.


Tukang kayu kita push untuk segera menyelesaikan pekerjaan setting omah limasan.

Siap dipasang usuk, tp cagak tengah dinaikkan dulu
Terkadang kita jangan percaya begitu saja dengan tukang kayu/tukang bangunan sebab tukang jaman sekarang sudah kehilangan "pakem" dalam menentukan kemiringan atap bangunan. Terbukti kemarin harus saya minta bongkar cagak tengah untuk dinaikkan 50cm supaya kemiringan atap memadai untuk aliran air hujan dengan deras dan lancar. Kemiringan atap genteng tentu berbeda dengan atap asbes atau seng, sering tukang mengabaikan hal ini dan tentu berakibat fatal pada kenyamanan hunian tersebut.

Cagak tengah sdh naik dan usuk sdh terpasang
Tinggal pasang genteng dan ratakan urug
Genteng sudah terpasang rapi
Limasan sudah komplit, tinggal urus lantai
Penyelesaian Dapur utk Masak

Minggu, 29 Maret 2015

Festival Mi Jawa Di Hotel Jayakarta Yogya

Awalnya kami grogi setelah sekian banyak warung mi jawa yang bertebaran di Yogya kita dipilih untuk ikut festival mi Jawa di Hotel Jayakarta. Pantaslah jika grogi karena kami berangkat dari desa (ingat, mendes adalah memang ndeso) dan belum berpengalaman ikut festival. Lawan kita adalah chef hotel. Lagi pula ditambah persiapan sangat minim, hanya diberi waktu 3 hari untuk menyiapken ubo-rampe nya. Bahkan tidak sempat mencetak spanduk, maka spanduk warungpun kita copot untuk dipajang di hotel. Sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya berbuah manis. Banyak pengunjung yang cocok dengan hasil masakan kami, sehingga pantas jika memperoleh top scorer penjualan saat festival.

Stand Mi Lethek Mbah Mendes, kurang spanduk


Crew Mi Lethek Mbah Mendes
Spanduk sudah terpasang
Last minute spanduk terpasang

Selasa, 03 Maret 2015

don't judge a book by its cover

Ungkapan don't judge a book by its cover serasa cocok untuk mi lethek. Jangan menilai sesuatu hanya berdasarkan penampilannya saja. Lah? Bagaimana tidak? Kebanyakan orang langsung bersentimen negatip begitu mendengar kata "lethek" apalagi ini soal makanan, wajar bila demikian. Mereka baru terhenyak setelah mencicipi rasanya dan mereka sangat setuju dengan semboyan kami "teko pisan dadi tuman". Itulah fenomenalnya mi lethek. Orang sekarang banyak yang berpetualang dengan kuliner ekstrem, barangkali mi lethek masuk kuliner yang setengah ekstrem dari namanya. Rasa penasaran dan berani mencoba membuat banyak orang berdatangan ke warung mi lethek. Dan pada gilirannya, setelah mereka mencoba taste nya, mereka kontan menjadi agen marketing mi lethek, mereka menjadi virus yang menyebarkan kabar kenikmatan mi lethek secara gethok tular (dari mulud ke mulud) kepada yang lain.

Beberapa hari lalu, kita kedatangan rombongan 8 orang dari Solo Baru (arah Wonogiri). Mereka datang dari rumah hanya khusus makan di mi lethek kemudian pulang lagi, tak ada acara lain selain makan mi lethek. Saat bayar di kasir, ibu muda itu sambil tertawa cekikian mengatakan bahwa mereka dari Solo Baru, awalnya dia diajak temannya mampir di warung sehabis ada acara di Yogya. Dan sekarang saya mengajak seluruh keluarga saya makan malam disini, bukankah ini riil agen marketing mi lethek? Dia melakukannya secara autopilot....

 

Senin, 02 Maret 2015

Pionier Mi Singkong Sehat

Memang sudah kami rancang sejak awal secara ekstrem bahwa warung mi lethek ini kami racik tanpa mi kuning. Pertimbangan kami jelas, yaitu mengingat bahwa mi kuning yang dibuat dari tepung terigu itu, kebanyakan juga dicampur dengan bleng (boraks), ini yang kami hindari. Padahal kalau bicara soal mi jawa, pasti ada mi kuningnya. Justru inilah bedanya, karena yang kita bicarakan adalah mi lethek, maka mi lethek dimasak tanpa mi kuning, 100 % mi lethek! Sekalian kami yakinkan bahwa sajian mi lethek kami masak tanpa tambahan bumbu kimiawi (MSG atau Micin), kami cukup menggunakan bumbu herbal dan kaldu ayam jawa bahkan tanpa menggunakan ebi mengingat sebagian orang ada yang alergi terhadap ebi.



Setelah kami jelaskan konsep mi sehat kami sepert di atas, kami justru tergelitik saat pelanggan mengatakan bahwa ini mi lethek satu-satunya di Indonesia bahkan dunia yang berani tampil beda seperti ini, ini pioner mi singkong sehat. 

Tak lelah kami berusaha untuk mengembangkan sajian makanan lokal yang sehat untuk para pelanggan. Inovasi kami selanjutnya adalah sajian nasi goreng. Kami memutuskan menggunakan beras jagung mengingat beras dari nasi kurang baik jika dimakan saat malam hari karena bisa menaikkan kadar gula dalam darah. Terlebih bagi mereka yang menderita diabetes, jelas makan nasi goreng dari beras nasi sangat dilarang. Untuk memenuhi keinginan makan nasi goreng secara aman bagi penderita diabetes, maka lahirlah nasi goreng Mendes.

Nasi Goreng Mendes