Jumat, 29 Juli 2016

Evaluasi lama kerja


Saat menjadi kreditor alias tukang kredit dana dari sebuah bank (nasabah), maka saya harus menentukan sendiri baik jumlah maupun jangka waktunya kredit. Biasanya saya menentukan jangka waktu minim 2 tahun dan maksimal 3 tahun supaya tidak terlalu berat membayar bunga bank, rasah dietung njelimet, simple saja...

Demikian pula saat menjadi karyawan, saya pun mempunyai trik sebagai kutu loncat. Berhenti di sutau perusahaan cukup 2 tahun atau 3 tahun ini cocok untuk level bawah, gunanya untuk menaikkan gaji kita lebih cepat ketimbang mengharapkan kenaikan tahunan yang rata-rata hanya 10% (sesuai inflasi tahun berjalan).

Selain gaji anda cepat menjadi naik, pengalaman kerja anda juga beragam. Dan semuanya melengkapi skill anda yang sangat berguna kelak.

Pada level menengah, evaluasi masa kerja 5 tahunan kiranya paling pas untuk diterapkan, artinya hendak stay diperusahaan itu atau hendak meloncat lagi, inilah timingnya. Waktu 5 tahun sudah cukup untuk bahan evaluasi.

Ingat, semakin tinggi posisi anda, maka otomatis akan semakin besar salary anda dan konsekuensi logisnya tanggung jawab juga semakin berat dan pada gilirannya akan semakin gamang untuk memulai usaha sendiri karena sudah terlanjur nyaman, kecuali anda mendapat pressure yang berlebihan dan tidak adil...

Oleh karena itu, sebaiknya sejak awal harus direncanakan sekalian, kelak tetap hendak menjadi karyawan sampai tua ataukah hendak beralih menjadi enterpreneur suatu saat karena prepare nya juga berbeda. Jangan seperti orang bangun dari mimpi siang bolong, saat usia pensiun baru grubyukan cari peluang untuk menjadi pengusaha, hadew...neng pasar bringharjo ombyokan kui mbree...
‪#‎salammendes‬

Kamis, 28 Juli 2016

Customer Mendes from Hongkong



Rasanya belum lama berselang,saat kita di ejek kawan mendapat sesuatu, jawabannya....dapat dari Hongkong?

Nah, kali ini bukan masalah ejekan yang dijawab dari Hongkong. Tetapi memang Mendes nerima tamu aseli dari Hongkong. Mereka makan siang dengan sangat lahap mi yang dimasak para chef Mendes. Rupanya di Hongkong,China dan Jepang banyak mi yang beredar dipasaran dengan berbagai taste. Taste kreasi chef Mendes tidak kalah enaknya... Mereka mengatakannya dan menghabiskannya sampai suapan terakhir...
Mendes itu memang fenomenal, kandani og....hehehe

Senin, 25 Juli 2016

Healthy Noodles



Mi lethek is a traditional cuisine that we have upgraded flavor. We refine cooking techniques and recipes so that a healthy local food.

Mendes worthy proud to present the noodles lethek as food from villages to taste the city, with the price of the village presented in the city ...

We don't talk anymore

Bukankah photo di atas sudah menggambarkan betapa enaknya sie anak kecil makan mi mendes godog? Meski panas tetap bersemangat untuk dimakan sampai gembrobyos....

Nah, itulah fenomenalnya Mendes. Barangkali kita harus meniru doktrinasi teroris sehingga menjadi fanatik. Namun dalam hal ini fanatik makan mi mendes. Bahwa doktrinasi makan mi mendes harus dimulai dari usia dini. Mereka harus dibiasakan makan makanan lokal sehat seperti mi lethek mbah mendes sejak usia dini. Supaya kelak kalau dewasa mempunyai inisiatip untuk mengajak koleganya ke mendes.

Jumat, 22 Juli 2016

Rindu Mendes


Setahun kami praktis hanya libur 5 hari sehabis melayani pemudik lebaran. Kami praktis tidak pernah libur sepanjang tahun,nostop setiap siang sampai malem melayani Mendeser...kami sudah komit untuk itu.

Nah, kami libur 5 hari saja banyak yang cari,telp, nekad datang dan kecele, WA, inbox FB, pokokmen berbagai media komunikasi bertanya,knapa libur? Ternyata mereka rindu Mendes...
Sebenarnya kamipun sedih saat banyak mobil hanya bisa puter di parkiran warung. Tapi tolong mengertilah,kami perlu istirahat sejenak untuk merecharge energy yang terkuras saat melayani kisanak pemudik lebaran.

Kini kami sudah buka, jauh-jauh dari Gamping langsung menyerbu Mendes Meguwo....selamat makan kisanak...

#‎salammendes‬.

PRINSIP ATAU METODE



Ada banyak nasihatnya yang saya gemari, namun ini salah satu favorit saya:
"Mengenai metode mungkin ada lebih dari satu juta jumlahnya, tapi prinsip jumlahnya sedikit. Orang yang menguasai prinsip bisa berhasil memilih metodenya sendiri. Orang yang mencoba metode-metode, mengabaikan prinsip, pastilah akan kesulitan."
Dewasa ini, ke mana-mana Anda melihat, Anda akan melihat begitu banyak metode. Bahkan nyelonong masuk WA anda. Contohnya,Trik terbaru menaklukkan mesin pencari,Cara yang belum pernah dipakai mengeksploitasi Instagram,Membuat video viral di medsos, Jutaan like dalam waktu singkat, dll
Sejuta pengunjung dengan memakai perangkat lunak canggih cuukup klik beberapa tombol. Hanya tujuh dolar,yang benar saja...Pertanyaan krittisku, kalau bisa mendatangkan satu juta orang, mengapa dijual murah? Mungkinkah pengunjungnya hanya pemakai internet acak, yang tak tertarik pada tawaran Anda? Bahkan tidak mengeklik pada iklan? Atau account palsu?
Kenyataannya...Orang yang cenderung tertipu adalah mereka yang tidak mengerti prinsip bisnis.Mereka tergiur taktik,Metode. Namun tidak memahami dasar-dasarnya sebuah bisnis. Bagaimana bisnis bekerja dan berproses.
Tak heran jika suatu metode gagal, setelah diikuti dengan sangat teliti, mereka kecewa dan sampai kapanpun tidak memahami mengapa mereka tidak berhasil,tidak punya ide atau pertanyaan, apanya yang salah?
Sebaliknya mereka yang memahami prinsip dan fondasi bisnis...Mereka bisa melihat peluang dengan jelas.Mereka bahkan bisa menciptakan metodenya sendiri. Mereka tahu kapan peluang terbuka. Dan kapan harus menyerah karena percobaannya gagal. Lalu beralih ke metode yang lain. Langkah mereka selalu pasti.
Kerena mereka mengetahui apa yang terjadi. Di setiap langkah. Kalau pun tidak berhasil, mereka tahu apa yang harus diperbaiki. Apa yang harus diubah sebelum dicoba kembali. Karena mereka memegang prinsip. Dan mereka sangat Mendes, paham?
#salammendes

Kamis, 21 Juli 2016

Belajar Sambil Nyeruput Kopi

Saat saya minum kopi di Starbucks bukan hanya kopi saja yang kuminum, tapi ilmu strategi nya ikut saya seruput...
Ada banyak pelajaran yang kita petik dari bisnis kopi yang sakses ini.
Agar bisa meningkatkan keuntungan, Starbucks harus membuka cabang pada lokasi yang baik. Pada tempat di mana banyak penggemar kopi akan sudi membayar lebih untuk segelas kopi.
Tentu saja mereka melakukan survei, potong kupingku jika tidak....
Mereka punya tim survai yang menjelajahi kota-kota di seluruh dunia.
Jika responsnya baik, mereka membuka gerai di sana.
Masalahnya...
Cara yang sederhana ini tidak cukup baik, boros biaya...
Karena pada sebuah kota yang ramai, yang kemungkinan orang-orang ingin mengunjungi Starbucks, harga sewa toko pun sudah selangit.
Itu artinya mereka harus membayar harga lebih mahal.
Mengambil risiko yang lebih besar.
Maka mereka pun kemudian memutuskan untuk menyempurnakan keahlian mereka mendeteksi daerah berpotensi. Lokasi yang sedang berkembang dan kemudian akan maju. Kota yang belum begitu padat namun segera akan sangat ramai karena perkembangannya.
Meskipun tidak bermain di sektor properti...
Mereka tahu di mana lokasi yang segera akan ramai.
Di mana harga segera akan naik.
Saking baiknya, keahlian mereka bahkan lebih baik daripada broker properti, apalagi kalo sudah kongkalingkong dengan Yusuf Khestanon
Dalam bisnis apa pun, Anda harus mengetahui faktor penentu terpenting.
Lalu jadilah yang terbaik pada faktor penentu itu.
Bagi Starbucks, ia adalah lokasi. Bagi Mendes adalah taste nya. Pokokmen ada sesuatu yang unik sekaligus faktor penentu.
Bagi Anda, apa?
Jika Anda belum tahu, pahami terlebih dahulu bisnis Anda secara mendalam.
Di mana Anda mencari prospek?
Anda perlu mengetahui proses yang dilalui untuk menjadikan seorang prospek menjadi pembeli. Lalu dari seorang pembeli menjadi pelanggan tetap. Dari pelanggan tetap menjadi penggemar.
Semakin Anda memahaminya, semakin Anda tahu faktor mana yang paling penting.
Faktor yang tidak hanya menentukan.
Tapi juga titik lemah dari kompetitor.
Yang membuat Anda menang mudah kalau dimanfaatkan. Jadi, siapkan dirimu menjadi pemenang bukan pecundang, bukan begitu mas guru J Sumardianta?
Pokokmen ‪#‎salammendes‬ mbree....

Rabu, 20 Juli 2016

Bisnis Tanpa Modal

Setiap minggu, banyak pembaca yang mengirim pesan kepada saya.Mereka ingin tahu bagaimana memulai sebuah bisnis di mana mereka tidak perlu menginvestasikan sepeser pun.

Jawaban saya tegas, begini:
"Kalau Anda tidak sudi menginvestasikan satu rupiah pun untuk Anda maupun bisnis Anda, carilah pekerjaan."


Terbukti bhwa Ia belum siap menjawab tantangan,artinya mindsetnya harus diubah karena mindsetnya menghambat dirinya sendiri dan pada gilirannya perkembangannya akan terhalangi. Ataukah anda kurang bersyukur, bahwa Tuhan pun sudah menganggapmu cukup untuk meguasai dunia, dengan modal kemampuanmu…hadew.

Ingat, , saya tidak bilang mereka tidak bisa sukses. Banyak jalan menuju sakses, jangan kawatir, jadi karyawan ataupun professional pun bisa sakses la wong sakses itu relative kog hehehe
Pandanglah dunia bro….pada kenyataanya, dalam hidup ini, kebanyakan orang cocoknya mencari pekerjaan. Memberikan waktu dan usaha mereka untuk mewujudkan impian orang lain dan gaya hidup orang lain. Karena mereka tidak bisa memutuskan. Tidak bisa melihat manfaat dengan menginvestasikan pada diri sendiri.

Jadi, tidak perlu malu dengan pekerjaan. La wong jutaan orang di seluruh dunia melakukannya. Namun jika profesi itu tidak cukup baik bagi Anda. Anda sebaiknya siap. Artinya,siap dengan situasinya hahaha…

Situasinya seperti ketika Anda hendak duduk di meja makan. Di sebuah acara pesta. Anda bisa duduk bersama amatiran, yang selalu mengeluh tentang ekonomi,tentang pemerintah,tentang nasib buruk.
Atau Anda bisa memilih untuk duduk dengan pengusaha hebat, yang membahas solusi, berani menerjang masalah, terus maju alias move on….

Lalu bergabung dengan mereka. Anda hanya saya persilahkan duduk di satu tempat. Anda pun bisa memilih...

Di manakah Anda akan duduk?

Selamat pagi…
#‎salammendes‬

MIE MENDES SEBENARNYA TIDAK ENAK

Mungkin saat ini di Jogja sedang booming bisnis kuliner, sangat berbeda dari sekitar kurang lebih 8 tahun yang lalu saat saya meninggalkan Jogja. Tempat tempat yang dulunya menjadi tempat jin buang anak sekarang disulap menjadi kafe atau tempat nongkrong yang cukup ramai. Keragaman bisnis kuliner pun menjadi sangat bermacam macam, para pengusaha seakan berlomba menyajikan apapun dan mencoba mencari celah dari produk produk sajian makanan yang sudah ada.

Salah satu yang menarik adalah adanya sajian makanan mie lethek, mie yang berbahan dasar tapioka sehingga tampilannya lethek (kotor). Mie lethek olahan yang bernama Mie Mendes adalah salah satu dari ribuan pengusaha kuliner yang mencoba peruntungan di Jogja.
Sekitar setahun yang lalu saya baru tahu mie lethek mendes itu seperti apa. Mereka lebih menjual sajian masakan jadi alih alih hanya sekedar bahan mentah. “ Butuh keahlian khusus dalam memasak mie lethek, “ kata mas Hanung pemilik Mie mendes.

Semakin lama saya mencoba mengikuti dan mencermati mie mendes dalam berproses, banyak hal yang unik dalam cara mereka berdagang. Hal yang paling utama adalah cara menaikkan brand image mie mendes. Mas Hanung sendiri bergerilya secara aktif di media sosial dengan tiada henti memposting produk maupun hanya sekedar komentar dari status status koleganya, dan bahasa yang dipilih pun bahasa yang sederhana dan tidak muluk. Lain halnya produk sejenis yang selalu cenderung ke Inggris inggrisan, mas Hanung selalu memberi komentar yang cenderung ndeso, ngawur dan kadang nyambung kandang tidak, asal kata atas komentarnya selalu diakhiri oleh kata “salam mendes”. Nah sebuah jargon yang sederhana dan mungkin tidak memerlukan konsep yang ribet, sok inggris tapi malah salah grammar.

Memang tidak dipungkiri media sosial menjadi ujung tombak pemasaran mie mendes, selain hal teknis masalah lokasi, tampilan dan sebagainya seperti Fanpage,blog, website menjadi kendaraan utama untuk memasarkan, mungkin karena budget yang terbatas atau lihai memanfaatkan strategi? Entahlah yang saya tahu mas Hanung memang pokil, pelit dan kikir...wkwkwkwk. Akan tetapi memang butuh hal luar biasa dari pribadi pemilik, konsistensi dan komitmen memasarkan tiada henti, apapun caranya dan untunglah dibantu oleh teman sendiri yang mempersiapkan sesuatunya dibalik layar, dari kesiapan fanpage, website, cara marketing dan persiapan tampilan. Yang jelas semakin hari semakin ada perubahan kemajuan dalam omzet maupun faktor lain yang mendukung.

Tidak dipungkiri dalam perjalanannya mie mendes pun mengalami jatuh bangun dan lumayan membikin badan kesemutan, salah satunya yakni ketika perpindahan lokasi warung di maguwoharjo ke tempat yang baru, omzet terjun bebas. Mungkin perlu extra ketabahan yang luar biasa mengingat investasi dan harapan pada saat itu dipandang sangat drastis. Maka dengan segala daya dan upaya segala macam media sosial digunakan untuk mendorong kembali omzet yang sudah hancur lebur pada saat itu. Hasilnya pelan pelan dan sampai sekarang meningkat luar biasa dan semakin meningkat. Butuh perjuangan dan sekali lagi butuh konsistensi dan mau bertanya dengan orang yang lebih bisa pada bidangnya masing masing.

Pelajaran yang bisa diambil disini adalah apapun usaha kita selama itu fokus dan mau berkembang semuanya pasti bisa dilakukan. Mungkin kita sering terjebak pada situasi dimana produk sejenis milik toko sebelah lebih laku dari kita dan kita malah menghujat mencaci mencurigai toko sebelah, nah matilah kita. Kemauan berkembang dan melakukan sesuatu dengan extra tenaga, extra ide, extra strategi pasti akan menghasilkan sesuatu yang extra.

Mungkin saat ini perjuangan Mie Mendes baru tahap awal, dan belum seberapa dibandingkan dengan raksasa kuliner di jogja, akan tetapi pattern yang diciptakan sudah mulai jelas. Entah suatu saat nanti sajian mie yang kotor ini akan menjadi sajian premium di hotel bintang delapan dengan harga selangit? Entahlah yang jelas perjuangan Mie Lethek itu sangat berdarah darah jendral, dan saya menyaksikan sendiri hal itu. Jadi jangan dipandang Mie Lethek Mbah Mendes itu enak,,,nggak enak!!!kalo dimakan mentah!!!

#SalamMendes!

Senin, 18 Juli 2016

Waktumu Dibeli Murah

Kenyataannya seperti itu. Sebagai pekerja bahkan kadang ada yang dibayar dibawah UMP setempat,THR tidak dibayar sesuai aturan, lembur tidak dibayar semestinya,tidak discover BPJS, jam kerja melebihi aturan 40 jam seminggu. Artinya, waktumu dibayar murah.

Jika kau hendak demo dan terjadi perselisihan acapkali buruh ada pada posisi yang kalah. Dan ujung-ujungnya PHK.

Saat gaji ratusan ribu, habis engkau belanjakan untuk cicilan motor, saat gaji naik menjadi jutaan habis juga untuk cicilan mobil kelas Avanza dan cicilan rumah,saat gaji naik menjadi puluhan juta, habis juga dengan mobil yang lebih berkelas seperti Alphard. Jarang yang menyisakan untuk investasi.Sehingga saat menginjak usia pensiun, saat anak-anakmu masih membutuhkan biaya untuk sekolah kau masih harus bekerja banting tulang sebagai buruh, ibarat kebo kabotan sungu…

Bisa aja tampilanmu mentereng,mobilmu berkelas, tetapi dimataku, engkau tetap sebagai karyawan, tak lebih sebagai buruh…
Engkau sibuk rapat di kota A pindah ke kota B,sesekali selfi menampilkan secuil status kerenmu di FB atas biaya kantormu….personal branding yang mantab, nampaknya sakses, kenampakannya saja…

Semakin tinggi gajimu akan semakin nyaman dudukmu disitu dan semakin sulit meninggalkan kenyamanan itu dan semua kemampuanmu sudah dibeli perusahaan dengan fasilitas,mungkin murah atau mahal,relative….tetapi dari segi waktu, tetap saja dibeli murah….

Berangkat pagi pulang petang,sibuk setiap hari,bahkan lupa nelpon estri, ultah anak apalagi kumpul keluarga karena waktumu tersita habis untuk pekerjaanmu, untuk perusahaan bos mu…

Ingat filosofi perasan air tebu? Sehabis dimasukin mesin peras, tinggal sampahnya dan air perasan tebunya sudah ditampung digelas untuk dijual. Andalah sampahnya kelak…..

Jangan salah sangka, bukannya saya negatip thinking kepada orang yang berprofesi sebagai buruh, boleh jadi hidup mereka fine-fine aja asal bisa menikmatinya….Jadi,hidup ini pilihan dan pilihan untuk membebaskan waktu dan finansialmu sangat terbuka untukmu. Tentu semua tergantung keberanianmu saja.

Ingat, jangan sia-siakan investasi waktumu sebab percuma menyesal kelak...
‪#‎salammendes‬

Pemudik Banjarmasin Mampir Mendes

Lebaran sudah usai, liburan segera berakhir, tapi malam ini masih ketamuan pelanggan dari Banjarmasin Kalimantan, mungkin mereka pilih kloter terakhir untuk Mendes an supaya tidak terlalu ramai hingga nyaman untuk bertanya-tanya.

Kenyataannya begitu, Ibu yang sepuh paling kiri itu bertanya detail untuk memasak mi lethek. Beliau beli 1 ball mi lethek kering untuk dimasak dirumah. Kamipun dengan ihklas menjelaskan tata caranya supaya hasil masakannya enak.

 Kulihat seluruh piring sajian mi lethek tersapu bersih, mereka gemar mi dan sangat menikmati mi Mendes. Terima kasih kisanak....

Kamis, 14 Juli 2016

Mendes sbg destinasi kuliner baru di yogya

Banyak orang bilang, Yogya terdiri dari rindu, klangenan dan kuliner. Mudik ke Yogya tak hanya mengobati rindu dengan sanak sodara dan hadai tolan. Namun menjadi momen yang tepat utuk menyusuri jalan dan mampir ke sejumlah lokasi kuliner yang membangunkan nostalgia.

Gudeg menjadi kuliner favorit sejak lama. Begitu sampai di Yogya, aroma gudeg sudah tercium sampai ke hidung. Namun tak hanya gudeg, sekarang Yogya juga menawarkan menu kuliner lain yang kemepyar. Apalagi kalau bukan Mi Lethek Mbah Mendes.

Bagi yang suka mengikuti serial cerita SH Mintardjo,entah Api di bukit menorah atau yang lain, pasti hafal dengan sebutan kisanak. Ini adalah sebutan bagi seseorang yang belum tahu namanya. Nah, warung bakmi ini merupakan tempat yang pas bagi kisanak-kisanak pemudik.

Tempatnya etnik jawa dengan rumah limasan, interior meja kursi bergaya kuno, sungguh menawarkan sensasi kembali ke masa lampau, lagu-lagunya koesplusan dan campursari serta nostalgia lama. Harga sangat terjangkau yaitu hanya 16 ribuan tanpa mengenal tuslah lebaran. Kisanak tidak perlu antri lama untuk seporsi mi mendes godog plus wedang jahe....sehat berkhasiat ngusir masuk angin dan virus flu...

Cobalah kisanak ke sana….
 
 

Testimoni Mi Mendes #2

Mereka menggambarkan mi Mendes sesuai menu yang mereka pesan, dan itu sangat obyektif, nyata, jujur serta baik bagi Mendes.
Testimoni macam begini penting bagi Mendes karena bisa untuk mengetahui selera pasar, kebutuhan pasar demi untuk kelangsungan bisnis mi Mendes.

Semalem mendes masih juga full pelanggan.Terima kasih atas kunjungannya.


Rabu, 13 Juli 2016

Lebaran Malam Ketiga...

Tanjakan pertama berhasil kita lalui. Kapasitas 3x pas tuntas habis untuk melayani pelanggan. Malam ini tak ada pelanggan yang ditolak. Crew Mendes canggih dalam mengatur ppic, terbukti semua terpuaskan dalam periode waktu yang tepat. Mereka pandai karena belajar dari pengalaman sebelumnya, intelegensi mereka smooth, I like it....

Malam ini kita tutup dengan senyum puas dan bangga pada team Mendes, we love you mbree....
Good night, salam Mendes...

Pelanggan Saat Lebaran Kedua

Tuntas sudah perhelatan Mendes malam ini. Sejak mahgrib pelanggan mengalir mak byuk bagai banjir bandang, tepat jam 20.00 wib order kita tutup, waktu selanjutnya tinggal menyelesaikan pesanan. Kapasitas sudah 2x masih juga kurang, maaf jika banyak pelanggan tidak kebagian order...besok kita service lagi....

Jumat, 01 Juli 2016

Sahabat Mendes Mulai Datang

Para sahabat Mendes yang datang dari Jakarta sudah mendarat lebih gasik di Mendes Meguwo.
Terima kasih banyak atas kehadirannya, sahabat Ludovicus Arwoko dari Cibinong Danang Ambon dari Tegal dan Petrus Kumorosidi Jakarta. Alasan mereka simple, malas uyek-uyekan antri makan dan membuat suasana kurang nyaman untuk menikmati mi lethek....

Juragan Pos Ketan Legenda
Loduvicus Arwoko
Danang Ambon, Petrus Kumorosidi dkk