Selasa, 29 November 2016

Budaya Ngopi

Bicara soal budaya ngopi saat ini, masing2 belahan dunia memiliki caranya sendiri untuk menikmati secangkir kopi. Baik secara rasa, waktu atau teknik penyeduhannya. 

Misal di daratan Amerika, di kota2 besar hampir setiap bloknya ada coffee shop.
Dengan mobilitasnya yg tinggi mereka cenderung menikmati kopi pada pagi hari sebagai pemicu adrenalin ketika bekerja. 

Cara penyajiannya pun cenderung cepat. Hampir sama dengan di Jepang, namun karena mobilitas orang di Jepang lebih tinggi mereka menikmati secangkir kopi yg diseduh dengan mesin, karena lebih cepat dan efisien. Bahkan ada coffee box yang secara otomatis menyeduh kopi jika kita memasukan beberapa yen kedalamnya. 

Bagaimana dengan kita? Terlepas bagaimana style orang Indonesia dalam menikmati kopi, budaya kita kopi adalah identik dengan malam, ngobrol, teman, nongkrong, dll. Sehingga kopi menjadi sebuah gaya hidup.
Masyarakat America, Eropa dan Asia bagian utara menikmati kopi sebagai kebutuhan mereka akan kafein. Seberapa banyak orang disana yang benar2 peduli dengan rasa kopi di gelasnya. Justru yang identik dengan nongkrong, ngobrol dan teman disana adalah bir atau minuman2 segar lainnya. Jelas hal ini berlawanan dengan budaya kita. 

Tidak ada yang salah, budaya ngopi kita biar saja tetap seperti gaya kita. Kopi yang identik dengan kekeluargaan, teman, ngobrol, dll (terutama di Jogja). Sebutan ngopi bahkan bisa jadi semacam diplomasi kecil untuk bercengkrama. "Ayo ngopi!" "Ngopi sek, men ra spaneng" "mampir sek tak gaweke kopi" "ayo ngopi sisan karo ngobrol2."

Nah, ngopi neng Mendes yuuk...sambil tak kancani ngobrol opo wae...