Minggu, 05 November 2017

Enterpreneur Radikal join Mendes







Saat ini apabila saya menyebutnya sebagai godfathernya BJBR (BeeJay Bakau Resort, Probolinggo) sudah layak dan sepantasnya. Hal ini tentu tidak lepas dari kerja kerasnya selama 6 tahun silam berturut-turut yang tak kenal lelah.

Bayangkan, 6 tahun silam Pak Benyamin ini sudah mapan dengan usaha pabrik daging ikan bekunya yang diekspor ke Australia.

Tetapi setiap melihat pohon bakau yang bergelimang sampah dan berbau tidak sedap, hatinya bergejolak pengin merawatnya. Bukankah ini mengadu nyali? Golek perkoro? Itulah yang bernama opportunity...

Mimpinya adalah membuat ekowisata dari hutan bakau. Tentu saja mudah ditebak bahwa maksud itu tak ada yang mendukungnya, bahkan dari pihak keluargapun tak ada yang setuju. Hal ini sudah dikonfirmasi putera sulungnya.

Namun apa daya para penentangnya, kemauan dan keteguhan hati pak Ben bagai sebongkah batu karang yang menancap ditanah, tak tergoyahkam oleh panas teriknya mentari, deburan ombak di laut sekalipun, proyek ekowisata must go on...daerah berawa seluas 89,2 ha disewanya dari Pemda Probolinggo selama 30 tahun. Ini benar-benar tindakan yang nekad karena dengan perhitungan finansial yang nyaris absurd.

Prinsip utamanya tidak boleh menebang pohon bakau sebatang pun. Padahal Pak Ben pengin membuat jembatan di antara pohon-pohon . Akibatnya jembatan terpaksa dibangun secara berkelok-kelok sesuai sela antar pohon yang ada. Pada akhirnya justru ini membuat resort itu semakin nyeni.

Awalnya, penancapan tiang pancang jembatan hanya bisa sebuah sehari. Namun setelah mempelajari ritme air pasang surut akhirnya bisa belasan tiang pancang ditancapkan per hari. Belum lagi kedalaman lumpur satu tempat dengan yang lain berbeda-beda, faktor ini pula lah yang sempat kita pertanyakan pie menghitungnya, mengingat Pak Ben bekerja tanpa konsultan teknik perlumpuran tiang pancang.

Benar-benar otodidak yang super gila. Pikiran kita, tiang pancang itu kan sebagai tumpuan jembatan di atasnya, dan kita harus hitung beban maksimal manusia yang bakal berdiri diatasnya, coba hitungen berapa kg bebannya per meter persegi, apa di ftp ugm ada ilmunya? mengingat Bang Ben alumnus ftp ugm 1975.

Paham bukan bahwa medsos itu kejam. Jika saat beban puncak, ada event keramaian misalnya, dan terjadi jembatan itu ambruk dan ambles...maka BJBR bakalan dihakimi, dibully orang sak dunia maya. Tapi nyatanya setelah 5 tahun dengan berbagai event kapasitas beban puncak 11.800 orang pada 1 Januari 2017 masih aman-aman saja. Edyan toh...

Pada mulanya pohon bakau diantara jembatan itu masih gersang, pendek dan sedikit. Rupanya bakau itu seperti bernyawa, suka sekali atas kunjungan manusia, buktinya mereka tumbuh dengan cepat menjadi hutan yang rindang menutupi sebagian jembatan.

Lebih dari itu, passion art yang ada dikepala Pak Ben benar-benar sempurna diejawantahkan dalam bentuk nyata. Jembatan panjang yang berkelok-kelok indah itu diberi terminal pemberhentian dengan nama-nama yang eksotik seperti terminal cinta.

Jembatan itu sambung menyambung terintegrasi sepanjang 1.645 m (jembatan terpanjang, record Muri). Jembatan kayu kelapa terkoneksi dengan bungalow2 yang berupa rumah panggung diatas air, berkaitan dengan BJ Mart, berkoneksi dengan Restauran dan Mushola ditengah laut, serta yang terakhir berkoneksi dengan patung kuda setinggi 11,6 m (masuk record Muri).

Kuda Cipta Wilaha ini terinspirasi oleh kuda Troja. Falsafahnya, dengan kecerdikan dan strategi, yang kecil menaklukkan yang besar. Ibaratnya, kota Probolinggo yang relatif kecil cakupan wilayahnya dan tidak mempunyai sumber daya alam andalan, dengan adanya BJBR bisa menarik pengunjung dari daerah lain.

Bahkan BJBR mempunyai venue lain yang futuristik yaitu Piramida Botol Bekas Minuman Keras. Piramida ini mencontoh yang di Luovre. Jumlah botol bekas yang disusun sekitar 30.000 an. Ini juga masuk record Muri. Dari balik Piramid Botol itu muncul lampu berwarna-warni yang indah untuk selfi.

Anda tidak usah mikir bagaimana air tawar bersih disenthorkan ke masing-masing Bungalow untuk mandi dan restoran untuk masak, bagaimana juga air kotor dan kotoran dari para tamu bungalow yang ternyata tidak dibuang ke laut tapi disedot untuk dimasukkan ke septic tanknya BJBR . Semua sudah ada solusinya, smart bukan?

Kita juga tidak usah ngerasakan ketar-ketirnya Pak Ben beserta direksi Pabrik ikan bekunya yang selama 5 tahun disedot keuntungannya untuk membiayai proyek ekowisata BJBR ini. Seandainya saja proyek ini gagal atau baru berjalan 4 tahun sumber dana habis, maka semua infrastruktur itu akan mangkrak tak berguna, mengerikan bukan?

Bayangkan saja, untuk penerangan malam hari yang eksotik dibutuhkan biaya investasi pengadaan lampu sekitar 90 jtan. Bayar abunemen listrik per bulan saja sekitar 60 jt an, belum gaji staf dan pegawai, bahan material seperti pasir putih dari Tuban untuk voley pantai klas internasional (370 m3) dan pantai buatan seluas 8.000 m2 ditutupi pasir putih dengan volume 6.000 m3 harus didatangkan dari Madura sebanyak 6 tongkang kapasitas @1.000 m3, berapa duit ini? Alas jembatan dan bangunan bungalow berupa kayu kelapa yang didatangkan dari Bitung dan Luwuk beberapa container 20 feet, tenda resto dan cafe didatangkan dari German...hmm

Namun rupanya nasib baik dan hoki masih ada pada pihak beliau. Alhamdulilah menginjak tahun ke 6 pengunjung mulai berdatangan ke proyek ambisius ini hingga rata-rata mencapai 4.000 – 5.000 pengunjung per harinya.

Soal keindahan tidak usah ditanya. Begitu anda menginap di Bungalow, saat jam 05,30 pagi. Langit yang gelap pelan akan menjadi jingga menuju merah dan terang akibat mentari muncul dari dasar laut di ufuk timur secara perlahan-lahan naik ke atas. Pemandangan yang sangat mempesona bagi orang kota yang tidak kenal lautan.

Kisah ini sungguh sangat menginspirasi Mendes. Sehingga kami ber 6 orang harus hadir untuk merasakan sensasinya dengan menginap 2 malam dan rembugan untuk bekerja sama. Deal, dalam waktu dekat akan segera dibangun warung etnik jawa khusus menyajikan menu mi lethek punya mbah Mendes di sana. Bukankah ini menarik?

Hahahaha...
#salammendes